Seratus Perak yang Tak Kembali
Sebagai anaknya yang terakhir, aku merasa mewarisi banyak watak dan kebiasaan yang Ummi punya. Selalu menutup makan berat dengan yang manis, suka coklat dan es krim vanila hingga gaya berbicara. Kebiasaan meniru sedari kecil membuatku merasa bangga tatkala apa yang beliau lakukan sehari-hari menjadi rutinitasku juga.
Meski demikian, satu hal dari kebiasaannya berusaha kulepas hingga kini. Sesuatu yang kusadari tidak baik untuk dipertahankan, terutama semenjak seorang bayi diamanahkan padaku. Yaitu memendam perasaan.
Sikap memaafkan tentu saja perbuatan terpuji. Meredam emosi ketika sebenarnya ia bisa dilampiaskan adalah sesuatu yang Rasulullah sebutkan sebagai orang yang paling kuat. Namun, sikap Ummi yang sering diam saja tatkala salah satu keluarga atau kenalan melakukan perbuatan yang tidak sesuai ternyata tak bisa terus-terusan aku aplikasikan. Terutama jika alasan melakukannya karena gak enakan, walau hati dongkol setengah mati.
Mengikuti Ummi, aku terbiasa memendam perasaan sejak kecil. Ditambah pola asuh Abi yang cukup menekan, aku tumbuh menjadi anak yang jarang menangis. Barang diambil semena-mena juga kubiarkan begitu saja, tak berani melawan barang sedikit pun. Dalam pikiranku, marah, menangis dan emosi negatif lainnya tak perlu kutampakkan sehingga orang di sekitar merasa nyaman berada di dekatku.
Memendam perasaan sedalam-dalamnya, agar aku tidak mengecawakan orang. Alih-alih senang, hal pertama yang membuat suamiku sangat kecewa setelah menikah malah sikapku yang seperti ini. Ia merasa tidak dipercaya, dan ia juga sedih melihatku terus-menerus menampakkan senyum palsu padahal di hati sebenarnya tidak benar-benar baik.
Dalam hal ini, kami memang berbeda bagai langit dan humi. Ia sangat ekspresif, hal sekecil apa pun yang menyenangkan maupun mengganggunya selalu diceritakan. Di hadapanku, ia seperti buku yang terbuka. Sangat mudah membaca emosinya terkini.
Sebaliknya, aku terus membangun tembok berlapis agar orang lain tak tahu emosiku sebenarnya. Diam saja ketika kembalian di toko tak seharusnya, atau pesanan yang diberikan salah. Hanya pada kesempatan yang mendesak, aku bisa mengkomplain dan mengkritik sesuatu.
Pemikiran seperti ini menjadi PR besar terutama bagi diriku agar bisa diseleraskan dalam pernikahan kami. Obrolan-obrolan ringan, termasuk ketika suatu hari kami pulang dari swalayan.
"Kenapa kurang seratus perak juga tetap kamu minta kembaliannya?" tanyaku kala itu.
"Kan itu uang kita, hak kita. Wajar dong kalau aku minta hakku kembali."
"Seratus perak aja, kan. Anggap saja sedekah," selorohku.
"Kalau mau sedekah, ya jangan seratus perak ke perusahaan unicron! Bukan sedekah itu namanya, tapi malah pemerasan orang-orang miskin tanpa sadar!" Wkwk, iya juga ya.
Aku tak tahu alasan Ummi sering kali memendam perasannya. Mungkin beliau tak sadar melakukannya, atau mungkin hatinya memang seluas samudera. Ketika hatiku masih menyisakan dongkol diperlakukan tak pantas, beliau bisa jadi lebih mudah memaafkan.
Ah, beliau tetap idolaku sepanjang masa.
Komentar
Posting Komentar