Postingan

Pesona Gelap Sungai Nil

Bulan November tiga tahun lalu, kehamilan pertamaku penuh oleh air mata kesedihan. Kebanyakan, kehadiran buah hati merupakan impian sepasang pasutri yang baru saja menikah. Setelah sepasang suami istri bertemu dan saling menutup kekurangan, sang buah hati diharapkan melengkapi. Begitu pula yang kami harapkan di awal pernikahan. Walau sebenarnya tidak harus cepat-cepat, mengingat aku maupun suami masih harus melanjutkan jenjang kuliah di Kairo. Kepada yang bertanya, kami selalu menjawab, "Tergantung Allah, sekasihnya ." Setelah dua bulan menetap di Indonesia paska pernikahan, kami kembali ke Mesir. Perjalanan yang ditempuh terasa sedikit lebih berat bagiku, lebih mudah capek dari biasanya. Awal-awal kehidupan kami berdua di Mesir kulalui dengan sedikit kepayahan. Mood naik turun, rasa lelah sering menghampiri dan nafsu makan berubah-ubah. Kupikir, apa yang kurasakan disebabkan oleh panjangnya perjalanan yang kami tempuh. Dari Makassar, Sulawesi Selatan, ke Kendari, Sulawes...

Mesir dalam Mimpi

Sebagian besar penuntut ilmu syar'i khususnya para santri lulusan pondok mungkin pernah memimpikan ini. Bisa melanjutkan pendidikan ke negeri para nabi, di salah satu universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Dibimbing langsung oleh para masyayekh asli dari Arab dan berkesempatan meneguk ilmu mereka sebanyak-banyaknya. Aku sendiri pernah bermimpi seperti itu. Kutuliskan di atas secarik kertas lusuh, yang kini entah di mana keberadaannya. 'Kuliah di Madinah atau Mesir', begitu bunyi tulisannya. Sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu, saat seragam sekolah masih berwarna putih abu-abu. Impian selintas, yang kemudian dilupakan seiring berjalannya waktu. Impian seorang anak SMA negeri yang sudah penat dikejar berbagai ilmu dunia. Bukan, bukan berarti ilmu seperti matematika, kimia, bahasa Inggris dan kawan-kawannya tidak penting. Namun ia hanya lelah, mengejar dan dikejar sesuatu tanpa tujuan yang jelas. Mengapa harus mempelajarinya? Mengapa harus merasa lelah dan terus disibukk...

Imam Nawawi dan Karyanya yang Tak Lekang Oleh Zaman

Mungkin nama imam Nawawi tidak asing lagi di telinga sebagian orang, khususnya mereka yang pernah mengenyam bangku pondok. Ya, beliau adalah pengarang kitab yang sering digunakan dalam mempelajari Islam khususnya ilmu hadis, seperti Riyadush Sholihin dan Arba'un Nawawi.  Sebelumnya, kita kenalan dulu yuk!  Nama lengkapnya adalah Abu Zakariya Mahyuddin Yahya bin Syaraf bin Murii An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Lahir di Nawa, Suriah pada tahun 631 H atau tahun 1233 M. Salah seorang ulama yang 'abadi' melalui karya-karyanya sampai hari ini.  Tahukah kamu?  Imam Nawawi adalah salah satu ulama yang terkenal produktif, menuliskan banyak sekali karya dalam hidupnya di usianya yang singkat.   Buku yang dihasilkan bukan sekedar tulisan di atas kertas, namun menjadi kitab rujukan hingga kini. Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dimengerti, sedang isinya bukan ecek-ecek. Hal-hal terpenting dari yang penting-penting terangkum dalam bukunya.  Sebut saja,  - Syarh...

Mesir : Negeri Impian Tetangga (2)

Tapi kudapatkan hal yang mengejutkan setelah kuketikkan Uzbekistan di kolom pencarian google. Ternyata ia pernah menjadi bagian dari kejayaan peradaban Islam. Bukhara dan Samarkand menjadi daerah penghasil ulama besar yang mendunia. Yang paling terkenal, imam Bukhori, sang 'alim penulis buku shohih Al-Bukhori. Buku ini diakui keabsahannya, bahkan disebutkan sebagai kitab utama yang menjadi rujukan setelah Al-Quran.  Sayangnya, kejayaan Islam di Uzbekistan mulai runtuh ketika terjadi penyerangan bangsa Mongol di abad ke-13. Kota Bukhara menjadi kota sasaran pertama, menyusul Samarkand di tahun berikutnya. Kebangkitan terjadi di abad 15. Namun kembali direbut oleh bangsa Uni Soviet pada tahun 1917. Di bawah kepemerintahan komunis Uni Soviet inilah kebijakan anti Islam diberlakukan. Melarang atribut yang menunjukkan identitas keislaman, serta menutup sarana dan peninggalan warisan Islam di Uzbekistan menjadi salah satu langkah yang diberlakukan pemerintahan. Tentu saja banyak sekali b...

Mesir : Negeri Impian Tetangga (1)

Sekitar empat hari yang lalu aku dipertemukan oleh Allah dengan seorang ibu di markaz tahfiz. Sebuah pertemuan yang menambah rasa syukurku sebagai seorang muslimah yang tinggal di Indonesia. Sebagai informasi, markaz tahfiz atau tempatku menghafalkan Al-Quran merupakan sebuah masjid dua tingkat yang menyediakan muhaffizoh atau guru yang menerima hafalan Al-Quran. Markaz ini menerima murid dari segala kalangan dan kebangsaan. Berbagai warna kulit dan bahasa bertemu di tempat ini, berusaha menautkan hati pada kalam Allah yang agung dan penuh cinta. Kutaksir umur ibu ini kisaran 30an. Ia yang menyapaku pertama kali, merasa gemas melihat tingkah putri sulungku yang berusaha berdiri di atas tapak-tapak kecil kakinya. Kutanyakan nama dan asalnya. Seperti tebakanku ketika pertama kali melihatnya, ibu ini berasal dari negara Uzbekistan, tepatnya di daerah Bukhoro. Berasal dari daerah yang sama dengan imam Bukhori, imam hadis legendaris penulis buku Shohih Bukhori. Uzbekistan sendiri merupaka...

belajar di markaz lughoh

Setelah kelas kami diacak, aku berkesempatan sekelas bersama teman-teman dari berbagai kewarganegaraan sesama Asia bagian Selatan. Selain Malaysia dan Indonesia, aku bertemu teman baru yang berasal dari Brunei dan Thailand. Sayangnya, masa kami saling berinteraksi hanya tiga pekan, itu pun dipotong waktu libur. Sehingga kami kurang mengenal satu sama lain.  Guru bahasa Arab di kelas jenjang akhir kadang kesulitan membedakan asal negara kami. Menurutnya wajah orang-orang Asia mirip, identik dengan mata sipit. Selams di Mesir, kami sering dikira Shinny, orang China. Padahal mata kami tidak sesipit mereka. Namun tidak juga sebulat orang-orang Arab.  Salah satu pembedaku dengan orang Asia lain yang dihafal oleh samg guru adalah model jilbabku. Kebanyakan jilbabku memiliki model pet yang keras di depannya, lalu dijahit garis-garis. Kebayang nggak? Jilbab model ini sering digunakan teman-teman sepondokku, dan aku pun nyaman menggunakannya. Kata sang guru, jilbab model seperti ini ha...

Gedung Biru Itu.. (7) : Wanita Bernama Monica

Wanita Itu Bernama Monica Di gedung biru itu, aku sempat duduk di sebelah seorang muallaf berkebangsaan Portugis. Bahasa Arabnya lumayan lancar, memungkinkanku bercakap dengannya. Monica namanya, datang ke Mesir seorang diri dan tinggal sendiri. Ia memiliki komunitas sesama perantau dari Eropa, kebanyakan orang-orang Spanyol. Monica sangat rajin belajar, catatannya banyak dan rapi. Tujuannya ke Mesir memang untuk mempelajari Islam sekaligus bahasa pengantarnya, bahasa Arab.  Pernah sekaki ia bercerita tentang keadaan Islam di daerah asalnya. Menjadi seorang muslim, berarti menjadi minoritas. Pemeluknya bisa dihitung, sehingga akses belajar pun sangat kurang. Di awal keislamannya, ia mencoba belajar dari buku-buku terjemahan bahasanya. Namun referensi yang tersedia sangat amat terbatas, sedang bahasanya sering rancu dan tidak mudah dimengerti. Karena itulah ia sangat semangat belajar bahasa Arab.  Ia bercita-cita menjadi seorang pengajar yang bisa mengajarkan agama Islam dengan...