Postingan

Menampilkan postingan dengan label Corat-coret muhasabah

Diingat Seperti Apa?

Malam hari tiba, namun mata belum mau diajak terpejam. Pikiran demi pikiran berkecamuk, silih berganti menduduki pikiran. Lalu, merenung sejenak. Bahwa seluruh manusia di muka bumi ini memiliki siklus yang sama. Lahir, dibesarkan sebagai bayi, lalu anak-anak, kemudian mengenyam pendidikan hingga tingkat tertentu, bekerja, menikah, menua, kemudian mati. Hanya saja, tidak semua manusia melalui semua siklus. Ada yang lahir, lalu mati. Ada yang sempat mengenyam pendidikan. Ada yang Allah panjangkan umurnya, lalu ia menutup usia di masa tua. Tak ada yang tahu kapan ajal 'kan menyapa, dan itu sebenarnya bukan hal yang penting tuk direnungkan. Ada pertanyaan penting yang harus kita jawab kelak, ketika Allah memanggil kita pulang.  Berapa banyak tangisan ketika ia dikuburkan? Berapa banyak hati yang mengingat namanya? Berapa banyak jiwa yang termanfaatkan karenanya? Dan yang terpenting, sudahkah kita menutup usia dengan sebaik-baiknya? Kita umat manusia diciptakan dan ditempatkan d...

Belajar Dari Bayi

Semenjak mutiara berhargaku lahir ke dunia, begitu banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil darinya. Allah menitipkan amanah berharga ini, bersama anugerah-Nya yang tak ternilai. ⁣ ⁣ Kala itu, Nusaibah baru saja menyapa dunia ini seminggu yang lalu. Mungil sekali. Manusia seberat 2,8 kg itu tak melakukan apa pun selain tidur dan menyusu. Komunikasinya hanya menangis. Salah seorang kawan memberikan selamat atas kelahiran bayiku, lalu bertanya mengenai keadaannya. ⁣ ⁣ "Alhamdulillah, seperti bayi normal. Kebanyakan waktunya buat tidur. Menangis minta nyusu, kemudian tidur kembali." Balasku, disertai beberapa emot tertawa. ⁣ ⁣ "Kadang pengen rasanya jadi bayi kembali. Ga ada beban, ga ada yang harus dipikirin kayak kita ini. Kalau lapar, tinggal nangis. Tidur sepanjang hari pun tak masalah."⁣ ⁣ Aku saat itu hanya tertawa dan mengiyakan dalam hati. Ya, mereka hanya tertidur dan menyusu. Tak memikirkan apa pun, tak ada masalah yang harus dihadapi. Kenikmatan yang se...

Kail Pemancinh

Kail Pemancing. Kalian tahu, lidah bisa diibaratkan seperti kail pemancing. Dengannya, kita memancing kebaikan maka bertambahlah amal shalih, dan meningkatlah derajat. Atau dengannya, kita memancing keburukan. Maka lidah ini seperti kail pemancingan. Kail yang mungkin saja menangkap ikan yang besar seperti halnya amal shalih. Dan kail juga bisa saja menangkap sesuatu yang tidak berharga di lautan, seperti kodok, sampah, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Maka, apa yang akan kamu tangkap dengan lidahmu? Sama seperti memancing ikan di lautan, kita membutuhkan petunjuk yang tepat agar sang lidah mampu menangkap hasil yang baik. Step pertama adalah perbanyak mengingat Allah. Ketika berjalan, maka gerakkan lidah untuk menyebut nama Allah. Subhanallah. Laa ilaha Illa Allah. Malaikat akan menuliskan untukmu sepuluh kebaikan, dua puluh, tiga puluh, dan seterusnya. Ketika akan beranjak untuk tidur, bacalah dzikir sebelum tidur hingga kantuk mengambil kesadaranmu. Ketika kamu duduk menunggu...

Lelah

Akhir-akhir ini rasanya rada aneh aja. Jadi sensitif, lebih gampang suuzhan dan tambah susah menggali-gali kebaikan agar ia berubah menjadi husnuzhan. Perkataan serta perbuatan sekitar yang dulunya biasa aja, sekarang terekam berhari-hari menjadi bahan pikiran tengah malam. ⁣ ⁣ Perkataan orang yang dulunya bisa jadi pelecut semangat, menjadi bom waktu dan membuat lesu diri. Bertanya-tanya, apakah memang aku separah itu? Tak becus mengerjakan apa pun juga? ⁣ ⁣ Apalagi kalau lihat postingan keluarga di Indonesia. Rasanya.. entahlah. Bercampur. Rindu ingin bertemu, cemburu akan kehangatan, tapi tetap bisa terabaikan juga. Tanpa sadar membangun benteng kasat mata, memangkas perasaan yang terus tumbuh. Apakah butuh racun agar membuatnya mati?⁣ ⁣ Padahal, si bayi juga enteng-enteng saja. Mungkin juga karena sang kekasih tak di rumah. Jiwa raga pun tak ingin bergerak. Hampa saja, tak tahu harus melakukan apa. Sedang list pekerjaan yang harus dikerjakan menumpuk hampir meledak. ⁣ ⁣ Rasanya, in...

Jangan Cari Makan Disini ya..

Selamat datang di blog kami zuhdinastory.blogspot.com . Sebenarnya sudah cukup lama blog ini dibuat, sudah sekitar delapan tahun dibiarkan berdebu tak disentuh. Tahun itu, wisuda SD baru saja berlangsung setahun yang lalu. Jadi tolong harap maklum kalau blog ini masih 'berantakan'. Ada kealayan bocah SD disana sini. Ketika akan menggunakannya kembali, mata menelusuri semua tulisan-tulisan yang sempat tertuang disana. Sangat random. Ada cerita pendek khas anak SD yang sudah tertebak endingnya. Ada beberapa tulisan sok asyik. Namun satu tulisan yang membuatku merenungi banyak hal, tentang jabat tangan. Jabat tangan yang kumaksud saat itu, jabat tangan antar laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Kuingat, tulisan ini dibuat ketika mendapat tugas membuat khutbah dan berceramah di depan orang banyak. Berhari-hari tulisan itu dibuat, hapus lagi. Buat lagi. Revisi disana sini. Sekali lihat, langsung ketahuan teknik tulisanku saat itu ATM. Amati tulisan orang lain, tiru dan modi...