Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Bukan Puisi Cinta - Bus Delapan Puluh Coret (3)

Dari dulu, Aisyah tak pernah percaya pada cerita cinta dan hal-hal romantis yang berkaitan dengannya. Menganggapnya sebagai sebuah virus yang sewaktu-waktu bisa merusak berbagai rencana yang telah tersusun rapi bagi masa mudanya. Lucunya, ia sering kali dijadikan tempat curhat bagi teman-temannya yang dimabuk cinta. Bahkan, julukan pakar cinta beberapa kali tersematkan padanya. Padahal, ia tak pernah serius menjawab curhatan mereka. Ia hanya beberapa kali mengerti jalan pikiran laki-laki, khususnya para brengsek yang senang mempermainkan perasaan. Maka ketika formulir lomba puisi itu diserahkan, tanpa sadar ia memutar mata. Apalagi setelah melihat tema yang panitia tetapkan, rasa-rasanya ingin langsung menolak saja. "Mau mundur? Masa belum dicoba sudah mundur duluan?" kata Bu Sumi ketika raut muka Aisyah sedikit tertekuk. Ia tahu persis bakat anak didiknya itu --terlepas dari ketidaksukaannya pada pakaian yang ia kenakan--. Hanya Aisyah, gadis di hadapannya yang bisa beg...

Bus Delapan Puluh Coret (Bagian 2)

Kriiing! Bel sekolah terdengar nyaring, mengalahkan suara gaduh para siswa yang berlarian menuju kelas masing-masing. Aisyah yang menetap di bangkunya selama jam istirahat hanya memasukkan kotak bekal yang telah kosong dan memperbaiki posisi duduk. Guru matematika kesukaannya sebentar lagi tiba. "Ay, Bu Sumi manggil tuh, ke ruangannya. Udah diizinin ke Pak Nusa katanya," ketua kelas yang baru saja duduk di sampingnya segera mencolek bahu Aisyah. "Kayaknya lomba lagi." Aisyah menghela napas. Ia kemudian beranjak dari kursinya setelah berkata pelan, "Ok, makasih." Lorong kelas yang hening meriuhkan pikirannya. Lomba ya? Kalau Bu Sumi yang manggil, kemungkinan lomba nulis lagi. Kalau karya ilmiah, enaknya buat apa ya? Tapi... Harus Bu Sumi, ya? Lamunannya terhenti ketika kakinya mulai melangkah masuk ruang guru. Suasana juga cukup sepi, sepertinya para guru sudah berangkat ke kelas masing-masing. Bagian TU menyapa dari jauh. Ia segera melangkah ke rua...

Bus Delapan Puluh Coret (Bagian 1)

Islam adalah agama yang paling sempurna. Ah masa? Cepat-cepat ia menghalau pikiran itu menyingkir dari kepalanya. Entah berapa kali ia mulai mempertanyakan agamanya sendiri. Agama yang telah dianut orang tuanya, kakeknya, bahkan kakek dari kakek kakeknya. Paham pluralisme memang sangat kental di lingkungan sekolah. Guru biologinya bahkan pernah berkata secara gamblang, bahwa semua agama setara. Semua menyeru kepada kebaikan, kendati memiliki versi tuhannnya masing-masing. Teman sekelas yang beragama Islam bahkan bersahabat dekat dengan teman Kristen. Mereka mengekspresikan toleransi dengan saling mengingatkan ibadah satu sama lain, dan saling mengunjungi tempat ibadah. Jika semua agama sama, kenapa banyak sekali agama yang berbeda-beda? Kenapa cara pandang dan beribadahnya juga berbeda-beda? Pikiran kritisnya tak menyerah mengusik, sering kali datang ketika waktu-waktu tidur tiba. Masing-masing agama mengaku yang paling baik dan benar. Setiap dari pemukanya berlomba-lomba menyeru, menc...

Takdir part 2

Kala itu, mentari masih berada di belahan bumi lain. Hanya pantulannya yang tampak dari rembulan yang sedang purnama. Lengang, itulah yang tertangkap olehku. Hanya rumah bidan yang masih tersisa keramaian, mengantarku meluncur ke rumah sakit yang sudah ditentukan.  Hai, aku Fulanah. Asli Bugis, Sulawesi Selatan. Namun masa kecilku tak berada di satu tempat. Masa SD di Sumatera, SMP kembali ke tanah kelahiran, SMA di Kalimantan lalu mengambil sarjana di salah satu pondok di Jawa Tengah. Tak sampai disitu, ternyata jodohku berasal dari Merauke, Papua. Lalu takdir membawaku terbang ke Kairo, Mesir. Menemani kekasih hati menuntut ilmu di sana.  Malam ini, aku kembali merasakan kontraksi. Setelah sekitar sembilan bulan yang lalu aku dinyatakan positif hamil, sepertinya mala mini adalah waktunya bayi untuk keluar. Rasa konstraksi mulai semakin intens, dengan rentang waktu yang makin singkat. Kontraksi sebenarnya sudah kurasakan sejak seminggu yang lalu. Rasa it uterus-terusan datang...

Takdir (akan direvisi)

Detik demi detik berlalu, hingga akhirnya seorang perawat senior masuk ke dalam kamar. Setelah melempar senyum yang sedikit janggal, ia menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Mengeluarkan ari-ari yang masih ada di perut, menjahit bekas robekan di jalan lahir, dan membersihkan sisa-sisa darah yang keluar. Semua ia lakukan secara cepat dan senyap. Lalu ia mengantarku kembali ke kamar perawatan. Suamiku telah menungguku di luar. Wajahnya sembab, namun senyum yang ditegar-tegarkan menghiasi bibirnya. Setelah mencium keningku, ia keluar dan tak lagi kembali dalam waktu yang lama. Suara isakannya masih sedikit tertangkap oleh telingaku. Setelah itu, beberapa kawan yang memang sengaja menungguiku masuk dan membantuku membersihkan badan. Ketika akan berdiri, dunia rasanya berputar-putar. "Kamu pucat. Kata dokter, kamu anemia." Kata salah seorang dari mereka. Seseorang lalu meminumkan sari kurma beberapa sendok. Setelah bersih, rasa lemas menyergapku kembali, membawaku membuai k...

Sang Serba Bisa

Sembuat mentari pagi masih malu menampakkan sinarnya. Burung bersahut-sahutan, saling menggoda satu sama lain. Lalu pergi kembali mencari remah-remah roti yang bisa dimakan. ‘Isy1 panas mengepul, baru saja matang di atas tungku pembakaran. Seorang pria yang tak lagi muda usianya, dengan cekatan mengeluarkannya kemudian mengaturnya rapi di atas anyaman rotan kokoh. Sungguh menggoda melihatnya.  “Aiz ‘isy ‘asyroh geneh lau samaht.2” Seorang ibu muda dengan aksen Asia yang khas berusaha mengambil uang di dompet pink kecilnya. Sang bayi dalam gendongan menggeliat, sedikit terganggu dengan gerakan yang terasa. Merapatkan kembali tubuhnya ke pelukan ibunya yang hangat, kemudian kembali terbuai ke dalam mimpi.   “Aiwah, tafadhdhali.3” Bapak-bapak tua itu menyerahkan sekantong penuh ‘isy yang sudah kaku mendingin.  “’Aiz sukhnah dah.4” Sambil menunjuk ke ruangan bagian dalam yang penuh dengan isy panas.  Bapak tua itu kembali ke dalam dengan sedikit gerutu, lalu menyerahkan ...