Bukan Puisi Cinta - Bus Delapan Puluh Coret (3)
Dari dulu, Aisyah tak pernah percaya pada cerita cinta dan hal-hal romantis yang berkaitan dengannya. Menganggapnya sebagai sebuah virus yang sewaktu-waktu bisa merusak berbagai rencana yang telah tersusun rapi bagi masa mudanya. Lucunya, ia sering kali dijadikan tempat curhat bagi teman-temannya yang dimabuk cinta. Bahkan, julukan pakar cinta beberapa kali tersematkan padanya. Padahal, ia tak pernah serius menjawab curhatan mereka. Ia hanya beberapa kali mengerti jalan pikiran laki-laki, khususnya para brengsek yang senang mempermainkan perasaan. Maka ketika formulir lomba puisi itu diserahkan, tanpa sadar ia memutar mata. Apalagi setelah melihat tema yang panitia tetapkan, rasa-rasanya ingin langsung menolak saja. "Mau mundur? Masa belum dicoba sudah mundur duluan?" kata Bu Sumi ketika raut muka Aisyah sedikit tertekuk. Ia tahu persis bakat anak didiknya itu --terlepas dari ketidaksukaannya pada pakaian yang ia kenakan--. Hanya Aisyah, gadis di hadapannya yang bisa beg...